Sleman Ajak Warganya Kaya karena Sampah

TEMPO.CO, Yogyakarta – Pemerintah Kabupaten Sleman DI Yogyakarta kian intensif mengkampanyekan pelestarian lingkungan bagi warganya dengan cara yang tidak destruktif. Pemerintah setempat mengimbau warganya agar menghentikan tradisi membakar sampah karena dinilai tidak ada gunanya dan merusak kesehatan karena karbon monoksida (CO) yang dilepas ke udara.

“Jadi ditawarkan konsep yang lebih ramah lingkungan dan juga menghasilkan nilai ekonomis, seperti penerapan konsep Bank Sampah,” kata juru bicara Pemerintah Kabupaten Sleman, Endah Sri Widiastuti, Selasa, 30 Oktober 2012.

Melalui konsep tersebut, Sleman pun kini telah memiliki sentra-sentra pengolahan sampah yang lebih sehat di sejumlah titik. Pengelolaan yang sehat itu juga mendatangkan rezeki tersendiri bagi warga melalui sampah-sampah yang diolah ulang.

“Saat ini sudah ada lebih dari 10 sentra bank sampah di Kabupaten Sleman,yang akan terus kami tularkan ke titik lain agar merata,” kata dia.

Konsep bank sampah sendiri adalah metode sederhana memilah sampah, namun dengan cara organisasi yang tertatata. Dalam konsep ini masyarakat difungsikan sebagai sebuah struktur organisasi yang memiliki tanggung jawab sendiri-sendiri.
Mulai dari kelompok yang bertanggung jawab memilah sampah (kertas, plastik, kerasan), kelompok yang melakukan packing, dan kelompok yang berfungsi sebagai pos bank sampah yang menerima sampah untuk pengolahan.

Salah satu sentra bank sampah yang cukup aktif berjalan dan memiliki nasabah banyak adalah kelompok masyarakat di Purwobinangun Pakem Sleman. Sebanyak 90 nasabah bank sampah di lereng Merapi itu mampu mengolah sampah mencapai 499 kilogram per bulan dengan omzet sekitar Rp 400 ribu per bulan.

Tak hanya di pelosok pedesaan, masyarakat di wilayah perkotaan Sleman seperti di perumahan Condongcatur Depok pun juga menjalankan bank sampah. Dengan 82 nasabah, mereka mampu mengolah 400 kilogram sampah per bulan dan mendapatkan omzet Rp 500 ribu.

“Pengelolaan sampah secara benar juga akan berdampak bagi generasi, khususnya anak-anak, agar mendapatkan lingkungan yang bersih, tidak polutif, dan belajar tentang pelestarian sejak dini,” kata Endah.

Advertisements

ITB Sumbang Mesin Pencacah Sampah pada PD Kebersihan Bandung

Himpunan Mahasiswa Mesin (HMM) ITB yang didukung oleh SKF (Svenska Kullagerfabriken) Indonesia, menyumbangkan Mesin Pencacah Sampah kepada PD Kebersihan Kota Bandung, Minggu (29/1/2012). Mesin tersebut sebelumnya dibuat oleh 15 mahasiswa ITB selama 4 bulan dengan menghabiskan biaya sekitar Rp 15 juta.

Penyerahan mesin pencacah tersebut diberikan langsung pada Kepala PD Kebersihan Kota Bandung Cece Iskandar dengan disaksikan oleh Dekan Fakultas Teknik Mesin Dirgantara (FTMD) ITB Sandro Mihardi.

Rencananya mesin pencacah tersebut akan ditempatkan di salah satu TPS untuk mencacah sampah organik. Dua alternatif pilihan yaitu di Oasar Ciwastra atau Pasar Sederhana.

“Kita akan menempatkannya di pasar, karena umumnya di pasar kan banyak sampah organik. Sehingga, hal itu akan lebih baik kalau ini disimpan di TPS yang dekat pasar. Memang harapan kita kan untuk mengurangi sampah yang di buang ke TPA dan juga memanfaatkan sampah semaksimal mungkin. Karena sampah organik, sehingga nantinya bisa dijadikan sebagai pupuk kompos,” tutur Cece kepada detikbandung, Minggu (29/1/2012).

Cece menuturkan, sebelum mesin tersebut benar-benar akan digunakan, pihaknya akan melakukan uji coba terlebih dahulu. Rencananya, uji cobanya akan dilakukan di salah satu TPS selama satu atau dua minggu.

“Mungkin setelah mesin ini kita coba, kalau ada kekurangan-kekurangan, barangkali nanti bisa kita bicarakan lagi dan selesaikan bersama-sama. Mudah-mudahan uji coba ini bisa berlangsung dalam waktu seminggu atau dua minggu,” katanya.

Mesin pencacah sampah tersebut mmiliki tinggi 1,5 meter dengan lebar 1,5×1 meter. Motor penggeraknya menggunakan tenaga diesel. Kapasitasnya bisa mencacah sampah hingga satu ton selama 24 jam.

Mesin pencacah sampah yang disumbangkan tersebut baru berupa prototipe. Rencananya, mesin tersebut akan diperbanyak untuk mengatasi sampah organik di Kota Bandung. Bahkan, pihak Dinas Kebersihan Kota Bandung sendiri menuturkan, nantinya pihaknya akan turut mendanai produksi mesin pencacah sampah tersebut.

“Mesin yang diserahkan ke kita hanya satu. Namun kita berencana untuk mengadakan pembuatan yang lainnya. Jadi kita bekerjasama dengan mahasiswa, dan kami akan berusaha untuk mendanai. Jadi nanti akan ada 2 hal positif, mahasiswa bisa belajar praktik langsung, kemudian kami juga mendapatkan hasil dari produk yang dibuat oleh mahasiswa untuk kegiatan penyelesaian masalah sampah,” tutur Cece

Menyulap Limbah Gombal Menjadi Lukisan Mahal


Limbah kain sisa konveksi biasanya tergeletak begitu saja di tempat sampah. Tapi, di tangan Irma Haryadi, sampah itu menjadi lukisan gombal. Walau hanya dari limbah kain, lukisan gombal tampak serupa lukisan cat minyak. Sudahlah bahan bakunya murah dan mengurangi sampah, harga lukisan gombal pun bisa mencapai jutaan rupiah.

Tak pernah terbayang sebelumnya di benak Irma Haryadi ada lukisan kain perca atau gombal, sampai ia melihat pengumuman tawaran belajar membuat lukisan gombal di Museum Tekstil pada 2006. “Di sana, saya belajar membuat lukisan gombal selama dua jam dibimbing oleh Pak Didit Sutanto,” katanya.

Dua jam itu membawa banyak perubahan dalam diri Irma. Ia tergugah dengan lukisan gombal lantaran bahan bakunya limbah kain. Potongan kain tak terpakai ini menjadi pewarna di atas kanvas. “Saya bisa dapat potongan kain dari banyak penjahit, berkarung-karung dan gratis,” ujar perempuan 44 tahun asal Purwodadi ini. Selain kain, dia cuma butuh kanvas dan lem perekat untuk membuat lukisan.

Bagi Irma, teknik melukis gombal sama dengan teknik melukis cat minyak. “Saya mengadaptasi teknik melukis cat minyak ke lukisan gombal,” katanya. Bahkan, banyak orang mengira lukisan gombalnya adalah lukisan cat minyak.
Ketika banyak orang mengunjungi toko lukisannya di Pasaraya Blok M, biasanya mereka cuek. “Tapi, akan berbeda ketika saya sedang membuat lukisan, banyak orang mengerubungi saya dan beberapa langsung membeli,” ujar Irma.
Irma memang sudah suka corat-coret sejak kecil. Sebelum mulai melukis gombal, Irma membuat garis pembatas di atas kanvas sebagai tekstur gambar. Lantas, ia menggunting kecil sisa-sisa kain. “Cari warna yang pantas, kemudian tempel,” kata lulusan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro ini.
Menurutnya, melukis gombal lebih kaya warna dibandingkan melukis dengan cat minyak. Sebab, sisa-sisa kain mengandung warna lebih bervariasi. Apalagi sisa kain batik.
Irma tak bekerja sendiri. Sewaktu ia mengerjakan pesanan lukisan ukuran besar dari Korea Selatan, banyak warga di sekitar rumahnya yang membantu untuk menggunting dan menempel kain. Pembeli dari luar negeri lebih suka memesan tema sosial. Adapun pembeli lokal lebih suka tema etnik.

Irma bisa membuat satu hingga tiga lukisan gombal sebulan. Karya-karyanya terpajang di Pasaraya dan satu galeri milik kawannya di Bogor. Irma menjual satu lukisan gombal di atas kanvas 60 x 90 cm dengan harga Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Lukisannya paling mahal Rp 8 juta dibawa pulang mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Perempuan yang tinggal di Ragunan, Jakarta ini lebih menekankan sisi seni dan sosial lukisan gombal. Saat ini, ia tengah giat mengajari teknik lukisan gombal ke banyak orang. Irma yang membuka kelas di Jakarta dan Bogor ini berharap akan ada lebih banyak orang yang terampil membuat lukisan gombal. “Makin banyak orang yang belajar, makin banyak limbah kain yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

src : jpmi.or.id

Mengolah Sampah Menjadi Uang

KOMPAS.com — Ibu Kidem (58) tampak serius dengan mesin jahit di hadapannya. Sesekali dia menggunting sisa benang, kemudian kembali menginjak pedal dan mulai menjahit.

Tidak seperti para pejahit yang biasanya menjahit kain untuk dibuat menjadi pakaian, Kidem sedang menjahit potongan-potongan berbagai kemasan produk yang terbuat dari plastik untuk dijadikan tas.

Mendaur ulang sampah kemasan produk berbahan plastik adalah usaha yang baru saja digeluti Kidem. Dia tidak pernah menyangka jika kemasan plastik yang dulu selalu dia buang ternyata bisa diolah menjadi barang yang memiliki nilai ekonomis tinggi.

“Saya mulai mendaur ulang sampah sejak tahun 2008. Merintis dari nol dan waktu itu ada yang mengajarkan dari warga sekitar yang sudah lebih dulu bisa. Iseng aja ikut pelatihan, lalu saya tertarik dan mulai mencoba usaha ini,” kata Kidem saat ditemui di Jalan Delima, Kelurahan Malaka Sari, Duren Sawit, Jakarta Timur, Senin (21/2/2011).

Bukan proses yang mudah untuk mendaur ulang sampah menjadi produk yang bisa digunakan kembali, butuh waktu hampir seminggu untuk membuat satu buah tas ukuran besar. Menurutnya, sampah kemasan plastik yang dikumpulkan harus dibersihkan terlebih dahulu. Proses pencucian bahan dasar (sampah kemasan plastik) hingga pengeringan memakan waktu empat hari, kemudian bahan dasar dipotong menurut pola yang ingin dibentuk, baru dijahit.

“Kami nyuci-nya gak sembarangan, kami rendam, kucek, dikasih pemutih supaya gak bau. Namanya juga ngambil bahannya dari tempat sampah, jadi harus benar-benar bersih mencucinya,” kata Kidem.

Proses menjahit pun tidak mudah, bahan dasar tidak langsung dijahit begitu saja. Untuk membuat tas, dia membutuhkan lebih dari 100 lembar bahan dasar, hal ini dikarenakan untuk satu lembar bahan dasar hanya bisa mendapatkan dua hingga tiga lembar potong pola.

“Itu kalo bahan dasarnya ada, tetapi kadang kita harus menunggu dulu karena tidak semua kemasan plastik cocok, baik dari segi model maupun warna. Oleh karena itu, harus sabar,” tutur Kidem yang mengaku mendapatkan bahan dasar dari Koperasi Bank Sampah yang ada di kampungnya binaan Yayasan Unilever Indonesia.

Koperasi Bank Sampah dikelola secara mandiri oleh warga Jalan Delima III. Secara rutin warga mengirimkan sampah yang telah dipilah untuk ditimbang dan dijual. Dari sinilah Kidem mendapatkan bahan dasar untuk usahanya. Selain lebih murah, dia tidak perlu jauh-jauh mencari bahan.

Karena faktor usia, Kidem tidak menjalani usaha ini sendirian, dia mengajak keempat temannya untuk turut bekerja. Biasanya keempat temannya mendapatkan tugas mencuci bahan dasar, mengeringkan, menggambar, dan menggunting pola. Untuk urusan jahit-menjahit diserahkan kepada Kidem.

“Kalo kerja sendirian, saya gak kuat. Pernah sekali dapat pesanam 50 tas, saya kerjainnya dengan teman-teman, itu aja memakan waktu 1,5 bulan,” kata Kidem.

Produk daur ulang yang telah jadi bisa memiliki nilai yang lebih tinggi. Harga yang dipatok pun bervariasi, mulai dari Rp 35.000 hingga Rp. 50.000, paling murah Kidem menaruh harga Rp 10.000 dan Rp 150.000 yang paling mahal. Dari usaha ini Kidem tidak mengambil keuntungan banyak, dia hanya meraup keuntungan Rp 25.000 hingga Rp 50.000.

“Nah keuntungan itu saya bagi lagi dengan teman-teman, biasanya sih 60-40. Saya 60 persen, teman-teman saya berempat 40 persen,” kata Kidem menjelaskan pembagian keuntungan.

Sempat bekerja di konveksi mulai dari tahun 1986 hingga 1996 membuat ibu yang memiliki enam anak ini tidak kesulitan menggeluti usaha ini. Dari usaha daur ulang sampah ini, Ibu Kidem mampu mencukupi kebutuhan keluarga sehari-hari.

“Anak-anak saya, sih, sudah pada besar dan berkeluarga jadi keuntungan yang saya dapatkan dipakai buat kebutuhan saya dan suami saja, lumayan buat tambah-tambah” ujarnya.

Sampah, Terlalu Manis Untuk Dibuang

Kreasi dari limbah plastik ini, selain mengurangi tumpukan sampah juga bisa menambah penghasilan. Anda bisa menyulap sampah plastik ini menjadi tas, dompet, sandal, bahkan celemek.

Menurut buku Inspirasi dari Limbah Plastik oleh Julianti Hermono, jika ingin memanfaatkan limbah plastik di sekitar rumah, ikuti tips di bawah ini:

– Jika ingin membuka kemasan plastik (kemasan produk pelembut pakaian, sabun cuci piring, cairan pewangi ruangan, dll), usahakan untuk mengguntingnya dengan rata.

– Bila produk sudah habis, bersihkan plastik di bawah air mengalir. Jika kemasan plastik yang berasal dari produk minyak goreng, sebelumnya isi plastik dengan air yang dicampur dengan irisan jeruk nipis.

– Jika sudah dibersihkan, jemur kemasan plastik dan keringkan. Setelah itu lap kemasan hingga benar-benar kering dan bersih.

– Kemudian jahit kemasan-kemasan hingga membentuk kain besar. Lalu, Anda bisa membentuk pola sesuka hati. Untuk menjahit sebaiknya gunakan jarum yang bernomor 14, 16, dan 18. Jenis benang yang bisa digunakan adalah nilon atau katun. Setelah itu, bentuk sesuai keinginan.

Pola dan desain dapat dicontoh dari buku Inspirasi dari Limbah Plastik.

Dalam bisnis limbah biasanya terkandung tiga dimensi sekaligus yakni dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan.

Seorang pemilik rumah di sebuah perumahan kebingungan untuk membuang puing-puing bangunan rumahnya yang sedang direnovasi. Solusi instannya, ia menumpuk semua puing itu di taman depan rumahnya. Tak lama kemudian ia mendapat komplain dari para tetangganya, karena tumpukan puing tersebut “merusak mata.”

Seorang pria, sebut saja namanya Mancung, berinisiatif untuk membuang puing tersebut dengan imbalan Rp 20 ribu per tiga gerobak. Kemudian kepada warga lain yang membutuhkan tanah urugan ia menawarkan dengan harga Rp 20 per tiga gerobak. Sekali dayung dua tiga pulau terlampaui, demikian akal jeli Mancung.

Aktivitas Mancung di sebuah perumahan tersebut menggambarkan bahwa limbah pada satu sisi membawa suatu masalah tetapi pada sisi lain juga sangat dibutuhkan. Dan fenomena dua sisi mata uang ini hampir mirip untuk semua jenis kategori limbah: limbah dibuang, limbah disayang.

Aktivitas bisnis dengan “komoditi” limbah bukan hal yang baru lagi. Namun seiring waktu, jenis kategori limbah yang bisa dibisniskan juga terus bertambah. Limbah plastik, misalnya, awalnya orang hanya tertarik menekuni bisnis limbah plastik non-film, seperti botol plastik bekas minuman dan bekas ember.

Namun belakangan limbah plastik yang semula masuk kategori sampah (seperti bekas plastik kresek dan plastik tipis lainnya) sudah mulai dimanfaatkan dan diolah untuk menjadi bahan baku pembuatan plastik. Salah satu pengusaha yang menekuni bisnis plastik sampah ini adalah Herman Sutirto.

Seperti pada umumnya bisnis limbah, pengolahan limbah sampah plastik milik Herman ini memiliki dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan. Dari sisi ekonomi bisnis ini jelas memilikiadded value tinggi. Dari sisi soial, bisnis ini bisa membuka lapangan kerja bagi para pemulung, penampung, bandar sampah plastik, maupun para pemasok yang berhubungan langsung dengan perusahaan daur ulang sampah. Dari sisi lingkungan, bisnis ini bisa mengurangi bahkan memecahkan masalah penumpukan sampah plastik. Padahal jenis sampah ini tidak bisa diuraikan sehingga akan menjadi polutan yang berbahaya bagi tanah.

Untuk menimbulkan efek multiplier yang lebih besar Herman bahkan sudah melangkah lebih jauh lagi dengan menggandeng BE BOSS untuk mewaralabakan bisnisnya. Sehingga dengan semakin banyaknya jenis bisnis ini secara otomatis akan menciptakan duplikasi yang lebih cepat dalam dimensi ekonomi, sosial dan lingkungan seperti yang telah disebutkan di atas.

Pemanfaatan limbah yang relatif baru adalah limbah alumunium foil. Di tangan Slamet Riyadi limbah alumunium foil bisa disulap menjadi barang kerajinan. Sudah pasti setelah melalui olah kreasi limbah alumunium foil yang berasal dari bekas kemasan makanan atau minuman ringan, tube pasta gigi, pestisida dan sejenisnya ini memilikiadded value yang sangat besar. Slamet secara jujur menyebutkan keuntungan menekuni bisnis ini bisa tembus 100%.

Sementara itu jika dilihat dari dimensi sosialnya, usaha yang digeluti Slamet ini bisa membuka lapangan kerja baru bagi para ibu rumah tangga, dan orang-orang lansia di lingkungan sekitar Slamet. Dari sisi lingkungan, dengan adanya bisnis ini kemasan-kemasan makanan dan minuman ringan, kemasan pasta gigi, pestisida, susu dan lain sebagainya tidak akan berserakan lagi. Itu sebabnya, usaha yang didirikan pria kelahiran Cirebon ini juga mendapat dukungan positif dari LSM Lingkungan.

Lain lagi kejelian T. Yustina, pemimpin sekaligus pengajar Lembaga Pendidikan Jaya Beauty School. Ketika ia melihat shuttlecock berserakan di lapangan bulu tangkis timbul idenya untuk mengubahnya menjadi kerajinan ondel-ondel yang eksotik. Sebelum ia mewujudkan idenya ini, hampir-hampirshuttlecock bekas ini tidak memiliki nilai ekonomis.

Karena tertarik dengan ide kreatifnya ini, sejumlah instansi ikut memberikan perhatian dan dukungan terhadap usaha Yustina, di antaranya pemberianstand gratis dari Pemda DKI ketika berlangsung suatu pameran di wilayah ini. Keterampilan mengubah shuttlecock menjadi kerajinan ini juga ia tularkan kepada anak-anak yang tidak mampu secara gratis.

Dalam soal menyulap limbah menjadi karya seni, Erwan dan Nurus tidak mau ketinggalan. Lebih unik lagi, Erwan dan Nurus memanfaatkan daun-daun yang benar-benar tidak memiliki nilai ekonomis. Daun-daun berserakan yang mengotori jalan dan pekarangan ini diubahnya menjadi berbagai kerajinan.

Namun sebagai sebuah karya seni, daun memiliki sifat rapuh sehingga harus dibarengi dengan bahan-bahan tambahan lainnya. Fungsi daun dalam seni yang diciptakan Erwan dan Nurus adalah sebagai hiasan. Kesan antik dan etnik langsung terlihat dalam karya seni Erwan dan Nurus. Lantaran kesan antik dan etnik ini keduanya berencana untuk mengekspor karyanya ke Dubai.

Yang secara ekonomi paling merasa tertolong dalam memanfaatkan barang bekas atau limbah ini adalah Joko Santosa dari Yogyakarta. Sempat bangkrut ketika menggeluti bisnis penggilingan padi, kehidupan Joko sontak berubah setelah mengubah haluan bisnisnya dengan menjadi juragan kertas bekas.

Bukan hanya tungku dapur keluarganya saja yang bisa berdiri tegak dan mengepul tiap hari, 40 tenaga kerjanya pun ikut menikmati manisnya bisnis ini. Tetapi sebelum mengecap manisnya hasil, Joko memulainya dari bawah. Mula-mula ia bergerilya mencari kertas dari pasar ke pasar. Selain masih sulit mengumpulkan kertas dalam jumlah yang besar, penjualannya pun tidak mudah. Maklum, ketika ia merintis usaha itu pada 1993, belum banyak perusahaan yang mendaur ulang kertas.

Alah bisa karena biasa, lancar kaji karena diulang. Itu juga yang dialami Joko dalam menggelindingkan bisnisnya. Dengan semakin bertambahnya waktu, membuat “penciuman” Joko tajam untuk melihat peluang-peluang bisnis kertas bekas. Joko berpikir, bahwa dirinya tidak secara terus menerus bergerilya dari pasar ke pasar jika ingin bisnis maju.

Ia mulai melirik kertas-kertas bekas di kantor-kantor pemerintah maupun swasta. Kantor jelas merupakan tempat berburu kertas bekas yang ideal. Tetapi ternyata tak mudah untuk mendapatkan kertas-kertas bekas dari kantor, lantaran banyak dokumen-dokumen penting yang tidak bisa sembarangan tersebar ke publik. Inilah tantangan Joko. Namun ia tak menyerah. Ia yakin, sekali berhasil pasti keberhasilan lainnya akan segera menyusul.

Benar saja. Ketika ia berhasil membeli kertas bekas dari kantor Bulog, kantor-kantor yang lain pun dengan mudah diyakinkan untuk menjual kertas bekas kepadanya. Sejak itu, bisnis terus berkibar. Bagaimana tidak, ia membeli dengan harga rendah tetapi menjual dengan harga tinggi sehingga keuntungan yang diperoleh bisa di atas 100%.

Ketika muncul pesaing-pesaing baru pun, bisnis Joko tak tergoyahkan. Namu ia akui, dengan semakin banyak pesaing membuat profitnya tergerus. Hukum ekonomilah yang bekerja, ketika banyak pemasok maka perusahaan daur ulang kertas bekas akan memilih pemasok yang memiliki harga terendah. Maka secara otomatis Joko akan mengurangi profitnya agar bisa tetap kompetitif.

Dari gambaran di atas kita bisa melihat bahwa berbisnis limbah dari hari ke hari akan terus berkembang. Saat ini masih banyak sampah yang kelihatannya tak bernilai, bahkan menimbulkan permasalahan. Namun sejatinya, dengan kejelian sampah-sampah tersebut bisa dimanfaatkan baik sebagai bahan baku sebuah industri maupun sebagai bahan baku barang-barang kerajinan.

Cobalah Anda lihat limbah di sekeliling lingkungan Anda. Barangkali salah satu di antaranya akan menjadi jalan untuk menghantarkan Anda menuju ke tangga kesuksesan seperti mereka-mereka yang telah menggeluti sampah sebagai pintu menggapai rejeki yang berlimpah ruah. (fn/vs/mp) http://www.suaramedia.com

Memilah Sampah, Menjaga Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Senja baru saja tiba ketika Teguh Iwan Supriyanto (36) mulai memutar roda mesin penyaring sampah. Bersama tiga kawan lain, sampah yang terangkut mesin segera disingkirkan dari jari-jari besi mesin pengangkut sampah.
Rasa bosan pasti ada. Namun, ini satu-satunya pekerjaan yang saya tahu dan telah menghidupi keluarga.

Saban hari, Iwan dan rekan-rekan di Stasiun Pompa Waduk Pluit, Jakarta Utara, membersihkan sampah yang sampai ke hilir. Plastik mi instan, kemasan air mineral, bungkus styrofoam, hingga popok bayi sering terbawa aliran air dari sejumlah kali, seperti Kali Jelakeng, Kali Besar, sebagian Kali Ciliwung, Kali Krukut, Kali Cideng, dan Kali Malang, hingga akhirnya tersaring sebelum air masuk pompa air Pluit yang terletak tepat setelah Waduk Air Pluit.

Iwan bekerja bersama sejumlah rekan satu tim. Kalau dia memegang alat pemutar jari-jari mesin, kawan lainnya menunggu hingga roda berhenti sebelum mengambil sampah yang terangkut. ”Kami sebut alat ini mesin screening. Kami tinggal ambil sampah yang tersangkut di jari-jari, mengumpulkannya, lalu membuangnya ke tempat pembuangan sampah,” kata Dedi Haryanto (45), teman Iwan.

Kalau cuma sedikit, para penjaga pompa membakarnya. Bila banyak, petugas mengumpulkannya sebelum gerobak pengangkut sampah datang. Pada musim hujan, tumpukan sampah mencapai 20 mobil bak terbuka atau 3 truk sampah besar.

Pekerjaan ini bukan main-main karena sampah bisa bikin mesin pompa ngadat. Kalau kerja pompa sudah terganggu, para penjaga pintu, seperti Iwan, harus mencari penyelam yang diupah untuk membersihkan karena badan pompa terletak di bawah sungai.

Untuk mencegah kerja mesin terganggu, Iwan dan teman-temannya mengoperasikan mesin penyaring sampah. Kerja pompa air ini amat dibutuhkan demi mencegah banjir di sejumlah daerah yang dilewati aliran air sungai yang masuk ke pompa air itu, terutama di daerah Pluit dan Muara Angke.

Mesin penyaring sampah yang berjumlah 11 unit akan beroperasi bergantian jika curah hujan sedikit. Namun, jika musim penghujan, 11 pompa itu akan beroperasi selama 24 jam. Untuk menjaga pompa air ini, dua tim penjaga dibentuk, masing-masing beranggotakan enam orang. Salah satunya adalah tim yang dipimpin Iwan.

Iwan dan rekan-rekan di pompa air ini tak hanya bertugas menyaring sampah, mereka juga bertanggung jawab memantau ketinggian air. ”Tinggi air dipertahankan di angka minus 125 sentimeter di bawah permukaan air laut. Kalau tinggi air di atas itu, pompa harus ditambah kekuatannya,” ujar Iwan.

Bertahun-tahun

Semua pekerja di stasiun pompa ini telah mendedikasikan dirinya selama bertahun-tahun. Dedi, misalnya, bekerja di pompa air Pluit sejak tahun 2001.

Iwan menerima pekerjaan sebagai penjaga pompa setelah sang ayah—yang menjabat posisi sama—meninggal 11 tahun lalu.

Bosan setiap hari memelototi mesin pompa dan memungut sampah? ”Rasa bosan pasti ada. Namun, ini satu-satunya pekerjaan yang saya tahu dan telah menghidupi keluarga. Kami tak akan main-main dengan kerjaan ini,” ujar Dedi yang selalu pulang menemui istri dan anak-anaknya di Cikoneng Girang, Tangerang, seusai bertugas.

Adapun Iwan lebih banyak menghabiskan waktunya di stasiun pompa ini. Dia memilih mengirimkan gaji bulanan dan tunjangan kerjanya, Rp 1,8 juta, kepada keluarga yang tinggal di Losari, Cirebon, Jawa Barat.

Pengabdian Iwan dan Dedi bukanlah satu-satunya. Di sepanjang aliran Kanal Barat yang membelah aliran Ciliwung saja, ada sedikitnya empat pintu air dan satu gedung pompa. Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet adalah dua di antaranya. Sama seperti Iwan dan Dedi, di Pintu Air Karet, penjaga juga wajib meningkatkan kewaspadaan pada musim hujan. Saat muka air naik secara tiba-tiba, berarti banjir sudah di depan mata.

Jangan dikira fasilitas di pintu air maupun gedung pompa nyaman buat para penjaga. Di Karet, sebuah pos berukuran tak lebih dari 3 x 2 meter bertingkat dua menjadi ”rumah” bagi Komar dan tiga temannya yang bertugas menjaga pintu ini. Sebuah pos jaga yang kotor dan sempit dengan tangga naik curam ini berada tepat di seberang bangunan Pintu Air Karet.

Di tempat inilah, Komar melepas lelah dengan beralaskan tikar. ”Kami tak milih-milih kerjaan. Ditempatkan di mana, tinggal diikutin,” kata Komar. (NELI TRIANA/AGNES RITA SULISTYAWATY)