Memilah Sampah, Menjaga Jakarta

JAKARTA, KOMPAS.com — Senja baru saja tiba ketika Teguh Iwan Supriyanto (36) mulai memutar roda mesin penyaring sampah. Bersama tiga kawan lain, sampah yang terangkut mesin segera disingkirkan dari jari-jari besi mesin pengangkut sampah.
Rasa bosan pasti ada. Namun, ini satu-satunya pekerjaan yang saya tahu dan telah menghidupi keluarga.

Saban hari, Iwan dan rekan-rekan di Stasiun Pompa Waduk Pluit, Jakarta Utara, membersihkan sampah yang sampai ke hilir. Plastik mi instan, kemasan air mineral, bungkus styrofoam, hingga popok bayi sering terbawa aliran air dari sejumlah kali, seperti Kali Jelakeng, Kali Besar, sebagian Kali Ciliwung, Kali Krukut, Kali Cideng, dan Kali Malang, hingga akhirnya tersaring sebelum air masuk pompa air Pluit yang terletak tepat setelah Waduk Air Pluit.

Iwan bekerja bersama sejumlah rekan satu tim. Kalau dia memegang alat pemutar jari-jari mesin, kawan lainnya menunggu hingga roda berhenti sebelum mengambil sampah yang terangkut. ”Kami sebut alat ini mesin screening. Kami tinggal ambil sampah yang tersangkut di jari-jari, mengumpulkannya, lalu membuangnya ke tempat pembuangan sampah,” kata Dedi Haryanto (45), teman Iwan.

Kalau cuma sedikit, para penjaga pompa membakarnya. Bila banyak, petugas mengumpulkannya sebelum gerobak pengangkut sampah datang. Pada musim hujan, tumpukan sampah mencapai 20 mobil bak terbuka atau 3 truk sampah besar.

Pekerjaan ini bukan main-main karena sampah bisa bikin mesin pompa ngadat. Kalau kerja pompa sudah terganggu, para penjaga pintu, seperti Iwan, harus mencari penyelam yang diupah untuk membersihkan karena badan pompa terletak di bawah sungai.

Untuk mencegah kerja mesin terganggu, Iwan dan teman-temannya mengoperasikan mesin penyaring sampah. Kerja pompa air ini amat dibutuhkan demi mencegah banjir di sejumlah daerah yang dilewati aliran air sungai yang masuk ke pompa air itu, terutama di daerah Pluit dan Muara Angke.

Mesin penyaring sampah yang berjumlah 11 unit akan beroperasi bergantian jika curah hujan sedikit. Namun, jika musim penghujan, 11 pompa itu akan beroperasi selama 24 jam. Untuk menjaga pompa air ini, dua tim penjaga dibentuk, masing-masing beranggotakan enam orang. Salah satunya adalah tim yang dipimpin Iwan.

Iwan dan rekan-rekan di pompa air ini tak hanya bertugas menyaring sampah, mereka juga bertanggung jawab memantau ketinggian air. ”Tinggi air dipertahankan di angka minus 125 sentimeter di bawah permukaan air laut. Kalau tinggi air di atas itu, pompa harus ditambah kekuatannya,” ujar Iwan.

Bertahun-tahun

Semua pekerja di stasiun pompa ini telah mendedikasikan dirinya selama bertahun-tahun. Dedi, misalnya, bekerja di pompa air Pluit sejak tahun 2001.

Iwan menerima pekerjaan sebagai penjaga pompa setelah sang ayah—yang menjabat posisi sama—meninggal 11 tahun lalu.

Bosan setiap hari memelototi mesin pompa dan memungut sampah? ”Rasa bosan pasti ada. Namun, ini satu-satunya pekerjaan yang saya tahu dan telah menghidupi keluarga. Kami tak akan main-main dengan kerjaan ini,” ujar Dedi yang selalu pulang menemui istri dan anak-anaknya di Cikoneng Girang, Tangerang, seusai bertugas.

Adapun Iwan lebih banyak menghabiskan waktunya di stasiun pompa ini. Dia memilih mengirimkan gaji bulanan dan tunjangan kerjanya, Rp 1,8 juta, kepada keluarga yang tinggal di Losari, Cirebon, Jawa Barat.

Pengabdian Iwan dan Dedi bukanlah satu-satunya. Di sepanjang aliran Kanal Barat yang membelah aliran Ciliwung saja, ada sedikitnya empat pintu air dan satu gedung pompa. Pintu Air Manggarai dan Pintu Air Karet adalah dua di antaranya. Sama seperti Iwan dan Dedi, di Pintu Air Karet, penjaga juga wajib meningkatkan kewaspadaan pada musim hujan. Saat muka air naik secara tiba-tiba, berarti banjir sudah di depan mata.

Jangan dikira fasilitas di pintu air maupun gedung pompa nyaman buat para penjaga. Di Karet, sebuah pos berukuran tak lebih dari 3 x 2 meter bertingkat dua menjadi ”rumah” bagi Komar dan tiga temannya yang bertugas menjaga pintu ini. Sebuah pos jaga yang kotor dan sempit dengan tangga naik curam ini berada tepat di seberang bangunan Pintu Air Karet.

Di tempat inilah, Komar melepas lelah dengan beralaskan tikar. ”Kami tak milih-milih kerjaan. Ditempatkan di mana, tinggal diikutin,” kata Komar. (NELI TRIANA/AGNES RITA SULISTYAWATY)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s