Category Archives: Kisah Sukses

Menyulap Limbah Gombal Menjadi Lukisan Mahal


Limbah kain sisa konveksi biasanya tergeletak begitu saja di tempat sampah. Tapi, di tangan Irma Haryadi, sampah itu menjadi lukisan gombal. Walau hanya dari limbah kain, lukisan gombal tampak serupa lukisan cat minyak. Sudahlah bahan bakunya murah dan mengurangi sampah, harga lukisan gombal pun bisa mencapai jutaan rupiah.

Tak pernah terbayang sebelumnya di benak Irma Haryadi ada lukisan kain perca atau gombal, sampai ia melihat pengumuman tawaran belajar membuat lukisan gombal di Museum Tekstil pada 2006. “Di sana, saya belajar membuat lukisan gombal selama dua jam dibimbing oleh Pak Didit Sutanto,” katanya.

Dua jam itu membawa banyak perubahan dalam diri Irma. Ia tergugah dengan lukisan gombal lantaran bahan bakunya limbah kain. Potongan kain tak terpakai ini menjadi pewarna di atas kanvas. “Saya bisa dapat potongan kain dari banyak penjahit, berkarung-karung dan gratis,” ujar perempuan 44 tahun asal Purwodadi ini. Selain kain, dia cuma butuh kanvas dan lem perekat untuk membuat lukisan.

Bagi Irma, teknik melukis gombal sama dengan teknik melukis cat minyak. “Saya mengadaptasi teknik melukis cat minyak ke lukisan gombal,” katanya. Bahkan, banyak orang mengira lukisan gombalnya adalah lukisan cat minyak.
Ketika banyak orang mengunjungi toko lukisannya di Pasaraya Blok M, biasanya mereka cuek. “Tapi, akan berbeda ketika saya sedang membuat lukisan, banyak orang mengerubungi saya dan beberapa langsung membeli,” ujar Irma.
Irma memang sudah suka corat-coret sejak kecil. Sebelum mulai melukis gombal, Irma membuat garis pembatas di atas kanvas sebagai tekstur gambar. Lantas, ia menggunting kecil sisa-sisa kain. “Cari warna yang pantas, kemudian tempel,” kata lulusan Fakultas Sastra Universitas Diponegoro ini.
Menurutnya, melukis gombal lebih kaya warna dibandingkan melukis dengan cat minyak. Sebab, sisa-sisa kain mengandung warna lebih bervariasi. Apalagi sisa kain batik.
Irma tak bekerja sendiri. Sewaktu ia mengerjakan pesanan lukisan ukuran besar dari Korea Selatan, banyak warga di sekitar rumahnya yang membantu untuk menggunting dan menempel kain. Pembeli dari luar negeri lebih suka memesan tema sosial. Adapun pembeli lokal lebih suka tema etnik.

Irma bisa membuat satu hingga tiga lukisan gombal sebulan. Karya-karyanya terpajang di Pasaraya dan satu galeri milik kawannya di Bogor. Irma menjual satu lukisan gombal di atas kanvas 60 x 90 cm dengan harga Rp 3 juta hingga Rp 5 juta. Lukisannya paling mahal Rp 8 juta dibawa pulang mantan Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso.
Perempuan yang tinggal di Ragunan, Jakarta ini lebih menekankan sisi seni dan sosial lukisan gombal. Saat ini, ia tengah giat mengajari teknik lukisan gombal ke banyak orang. Irma yang membuka kelas di Jakarta dan Bogor ini berharap akan ada lebih banyak orang yang terampil membuat lukisan gombal. “Makin banyak orang yang belajar, makin banyak limbah kain yang bisa dimanfaatkan,” tuturnya.

src : jpmi.or.id

Cara Zhang Yin, Si “Ratu Sampah” Perkasa Jadi Miliarder China

Dalam daftar orang terkaya di China, Forbes mencatat ada enam wanita pengusaha kaya. Sementara di daftar Amerika Serikat terdapat tujuh orang. Namun, sangat berbeda dengan wanita-wanita kaya di China yang memperoleh kekayaan berkat usahanya, wanita terkaya di AS pada umumnya memperoleh kekayaan berkat warisan keluarganya.

Adalah Zhang Yin, pendiri dan Ketua Nine Dragons Paper Industries Co, Ltd yang menempati peringkat kelima dalam daftar wanita terkaya di Cina. Dia merintis usahanya dari bisnis daur ulang kertas bekas. Hebatnya lagi, Zhang cuma perlu waktu belasan tahun untuk mengalahkan kekayaan para kampiun perempuan Barat yang namanya jauh lebih mendunia, dan melalui bisnis yang tak biasa pula.

Sebagai anak keluarga militer yang menetap di Heilongjiang, provinsi di kawasan utara China yang berbatasan dengan Rusia, masa kecil sulung dari 8 bersaudara ini sangat pahit. Selama Revolusi Kebudayaan yang dimulai pada 1966, ayah Zhang Yin dipenjara bersama 2 juta lebih anggota masyarakat yang dianggap kontrarevolusioner atau antek kapitalis. Baru, ketika Revolusi Kebudayaan berakhir 10 tahun kemudian, hidupnya mulai meningkat. Pada 1976 itu, ayah Zhang dibebaskan dan namanya direhabilitasi.

Setelah Reformasi Ekonomi diluncurkan Deng Xiaoping pada 1980-an, Zhang Yin hijrah ke Shenzen, salah satu kota di pesisir selatan yang dikembangkan untuk eksperimen kapitalisme ala China. Di Shenzen dia bekerja di perusahaan patungan di bidang perdagangan kertas. Interaksi dengan orang asing ini mendorong Zhang menyeberang ke Hong Kong pada 1985, ketika perusahaan tempat bekerjanya bangkrut. Di pulau yang waktu itu masih koloni Inggris tersebut, dia lalu mendirikan bisnis perdagangan kertas bekas. Dalam tempo singkat Hong Kong jadi kelewat kecil untuk menampung seluruh ambisi bisnis Zhang Yin yang besar. Maka, pada 1990 dia lalu pindah ke Los Angeles dan menikah dengan Liu Ming Chung, dokter gigi kelahiran Taiwan yang dibesarkan di Brasil dan fasih berbahasa Inggris. Ketika itu pasangan Zhang-Liu mendirikan America Chung Nam (ACN) pada awal 1990-an.

Daur Ulang Pasangan tersebut berkeliling AS dengan minivan Dodge butut, membujuk pusat pengumpulan sampah di seluruh negeri untuk memberikan segala macam sampah kertas kepada mereka. Kegesitan Zhang ini membuat ACN jadi pengekspor besar AS dari segi volume ketika permintaan terhadap limbah kertas meroket pada 1995, bahkan pengekspor terbesar sejak 2001.

Menguasai pasok bahan baku, pada pertengahan 1990-an itu Zhang mudik ke China untuk mendirikan Nine Dragons di Dongguan. Hanya dalam tempo satu dasawarsa, pada 2006, pabrik Nine Dragons yang besar dan modern telah berkembang jadi 11 buah, mempekerjakan 5.300 karyawan dan mendatangkan laba 175 juta dolar AS. Pada 2007, satu pabrik raksasa lagi yang dibangun di pusat industri ekspor China di kawasan Delta Sungai Yangtze, dekat Shanghai. Keberanian Zhang terjun habis-habisan ke industri kertas berbahan baku limbah adalah berkat seorang kolega bisnis yang namanya tak dia sebutkan. “Aku ingat apa yang dia katakan waktu itu,’’ tuturnya. “Dia bilang, limbah kertas itu seperti hutan. (Sebab) kertas dapat didaur ulang, dari satu ke lain generasi.”

Yang dilakukan Zhang dengan Nine Dragonsnya persis seperti ini. Perusahaan Zhang mengirim limbah kertas dari Amerika dan Eropa, lalu mendaur ulang sampah tersebut jadi corrugated cardboard yang digunakan jadi kotak pengemas mainan, barang elektronik, dan furnitur “Made in China” dan sebagian diekspor ke Amerika dan Eropa. Maklum, dalam daftar pelanggan Zhang penuh dengan nama besar seperti Sony dan Nike. Setelah boks tadi dibuang, siklus daur ulang berjalan lagi dari awal.

Dengan berpindahnya pusat industri kertas dunia ke China, Zhang akan mewujudkan visinya. “Saya ingin membuat Nine Dragons, dalam 3-5 tahun, jadi pemimpin di industri containerboards,” ujarnya.

Zhang Yin sama sekali tak merasa risi dengan julukan ratu sampah, bahkan ada rasa bangga. Dia sadar betul, bisnisnya telah menginspirasi banyak entrepreneur, termasuk dari negara lain. China kini menjadi pendaur ulang segala macam limbah, termasuk rongsokan produk elektronik yang mengandung tembaga, besi, nikel dan emas. Hal lain yang membuat Zhang Yin bangga, dari sampah dia berhasil menghimpun kekayaan sampai hampir tiga kali lipat aset yang dimiliki peringkat ke-2 jajaran Perempuan Terkaya Dunia versi Hurun Report yang diduduki Zhang Xin.

“Kaum perempuan menguasai separuh langit,” ujar Mao Zedong. “Sebab itu, para perempuan Cina memiliki hak dan kewajiban yang sama dengan kaum lelaki di depan hukum”. Ketika mengatakan hal ini pada 1949, Ketua Mao mungkin tak mengira bahwa para pendekar perempuan Negeri Naga Merah di bidang bisnis, dalam tempo relatif singkat, akan mampu mengibarkan diri ke jajaran pengusaha tersukses dunia.

Simak saja daftar “Richest Self-Made Women in the World” dalam Hurun Report yang diadopsi Forbes. Dalam daftar yang disusun oleh kelompok bisnis di bidang luxury publishing and event yang berbasis di Shanghai ini, pada 2007 Cina menempatkan 6 dari 10 Perempuan Terkaya Dunia yang menangguk kekayaan dengan upayanya sendiri, bukan dari warisan alias self-made. Di tempat teratas adalah Zhang Yin. Dan ini bukan kali pertama bagi Zhang sang pendiri Nine Dragons Paper Company Ltd. berada di puncak. Sebab, sebelumnyaHurun Report juga sudah mendudukannya di posisi terhormat tersebut.

“She is the wealthiest self-made woman in the world,” ujar Rupert Hoogewerf, peneliti yang menyusun daftar orang kaya itu sejak 1999, dalam peluncuran Hurun Report 2006. Kekayaan Zhang Yin pada 2006 itu tercatat US$ 3,5 miliar.

Pada 2007, dengan meroketnya nilai saham Nine Dragons yang 72%-nya dia kuasai, kekayaan Zhang Yin menembus US$ 10 miliar kian jauh meninggalkan Oprah Winfrey (US$ 1,5 miliar, peringkat ke-8), Rosalia Mera (pendiri Zara, US$ 3,4 miliar, peringkat ke-3) dan Guilliana Benetton (pendiri Benetton Group, US$ 2,9 miliar, peringkat ke-5). Hebatnya lagi, Zhang cuma perlu waktu belasan tahun buat mengalahkan kekayaan para kampiun perempuan Barat yang namanya jauh lebih mendunia, dan melalui bisnis yang tak biasa pula.

Ng Weiting, mitra Zhang Yin di Hong Kong pada 1980-an itu menceritakan kepiawaian Zhang mendapatkan kinerja terbaik dari orang-orangnya. “Kalau ada karyawan yang menuntut kenaikan gaji, dia akan meluluskannya asal masuk akal,” ujar Ng mengenang. “Tapi kalau ada karyawan bikin salah, dia akan mengkritisi keras. Dia menunjukkan jelas kepada para karyawannya kapan memberireward dan kapan menjatuhkan punishment.” Kehebatan lain Zhang adalah kemampuannya dalam menjual dan membuat deal bisnis.

Citra peduli lingkungan ini agaknya menjadi salah satu faktor yang membuat Nine Dragons berhasil meraup dana US$ 500 juta ketika, dengan dukungan Merril Lynch, mereka meluncurkan saham pada Maret 2006. Pada hari peluncuran perdana itu, nilai saham perusahaan Zhang ini langsung melejit 40%. Memasuki 2007, nilai Nine Dragons saham meroket empat kali lipat lebih sehingga kapitalisasi pasarnya mencapai US$ 5 miliar dan saat ini telah menembus US$ 13,8 miliar.

Dengan berpindahnya pusat industri kertas dunia ke Cina yang lahan dan tenaga kerjanya murah – serta permintaannya teramat besar – pelan tapi pasti Zhang akan mewujudkan visinya. “Saya ingin membuat Nine Dragons, dalam 3-5 tahun, jadi pemimpin di industri containerboards,” ujarnya seperti diberitakan nytimes.com, awal 2007. “Keinginan saya adalah jadi pemimpin di sebuah industri”.

Laiknya perusahaan Cina, Nine Dragons memiliki keuntungan lain. Belum dibatasi aturan lingkungan yang begitu ketat, mereka bisa menggunakan batu bara yang murah sebagai sumber energi, bukan gas yang mahal. Keuntungan lainnya, sebagai pemain baru Zhang dapat membangun pabrik dengan teknologi terbaru yang jauh lebih efisien ketimbang para kampiun industri kertas Barat yang sebagian besar masih menggunakan mesin dengan teknologi tahun 1980-an, bahkan 1970-an.

Masih kurang? Nine Dragons menggunakan bahan baku yang supermurah pula. Terbebas dari keharusan menangani limbah yang biayanya mahal, pusat-pusat pengumpulan sampah di Amerika (dan Eropa) dengan senang hati melego limbah kertas dengan harga sangat murah, US$ 100/ton pada 1990-an. Demikian pula perusahaan pelayaran. Ketimbang kosong, armada kapal yang ingin memuat barang impor dari Cina rela mengutip fee rendah untuk limbah murah yang dikirim ke Cina.

src : suaramedia.com

Kisah Sukses Bisnis Mengolah Sampah

Hari rabu kemarin saya baru saja berkunjung ke pabrik pengolahan limbah plastik milik seorang teman. Proses produksinya sangatlah sederhana. Limbah plastik (botol dan cup bekas minuman) yang dibeli
dari lapak-lapang pengepul dibersihkan dari label yg menembel maupun tutup plastiknya. Kemudian dimasukkan ke mesin perajang sehingga berukuran sekitar 1cmx1cm.

Rajangan dicuci dan dikeringkan dengan sistem sentrifugal. Untuk menghilangkan airnya dilakukan penjemuran di bawah matahari. Rajangan yg kering tadi bisa langsung dijual atau dibuat pelet. Temenku sih lebih suka menjualnya dalam bentuk rajangan karena lebih mudah menjualnya. Pihak pabrik (yg hanya merajangnya lebih halus dan mencucinya lebih bersih) sebelum menjualnya ke industri polyeurethane bahkan berani membayar cash on delivery. Rata2 keuntungan per kg bahan siap jual minimal Rp 1.500,00. Temenku mampu memproduksi sekurang2nya 2 ton perhari. Dikurangi susut dan biaya produksi netprofite bisa diatas Rp 1.000,00 per kg.

Menurut temenku itu, masalah terbesar ada memaintain ketersedian supply bahan limbah di tingkat pengepul. Selain itu juga perlu kehati2an dalam membeli (harus cash keras) karena pengepul sering curang dengan merendam plastik dalam air, bahkan ada yg memasukkan batu atau besi bekas.

Trus modal yg diperlukan untuk peralatan tidak terlalu mahal, bahkan banyak pabrik yg siap memberikan secara cuma2 asal mampu nyetor 5 ton per minggu.

Tentu yg aku ceritain di atas, cuman garis besarnya aja. kl ada yg mo ngobrol ato nanya2 ma temenku, japri aja, ntar aku kasi no telpnya deh. Sedikit bocoran soal temenku itu, dia memulai bisnis ini awal tahun 2007. Saat itu dia sudah memiliki bengkel dengan netprofite 40-50 jt dengan aset bengkelnya skitar 12m. Kalau saja tidak dilarang oleh orang tuanya, dia sangat ingin menjual bengkelnya agar bisa allout di bisnis limbah. Hebatnya, dia masih mau nyambangi lapak pengepul limbah yg bau banget pake cygnusnya. Karena banyak yg ga tau kl cygnus mahal, akhirnya dia ganti pake mercy E260 deh…

source : http://www.vitanouva.net/index.php?topic=1074.0